Harapan Seorang Anak


ada sebuah desa kecil, ada seorang ibu yang melahirkan seorang bayi lelaki yang putih gemuk dan sangat lucu, namun ternyata sampai berumur satu tahun, bayi lelaki ini masih saja belum bisa merayap, ayah-bundanya lalu sibuk mencari pengobatan ke sana ke mari, namun anak lelaki ini semakin hari malah tumbuh semakin kurus, sampai usianya mencapai tujuh tahun, tetap saja hanya bisa berbaring di ranjang dan tidak mampu bergerak sendiri.

 

Bunga mekar dan layu adalah hukum alam

 

Pada suatu hari, anak ini memberitahukan ibunya: “Ibu, aku tahu ibu mengasuhku dengan susah payah, aku juga berharap tubuhku segera sembuh. Setiap pagi ketika mendengar suara burung berkicau, aku ingin sekali pergi ke halaman depan untuk melihat rupa burung-burung kecil yang sedang bernyanyi di ujung pohon. Ketika sore tiba, aku mendengar banyak suara tawa anak-anak yang sedang bermain-main di luar, aku sungguh kagum pada mereka! Terlebih lagi ketika malam hari, aku ingin sekali berjalan-jalan di bawah siraman cahaya rembulan yang indah. Hal-hal yang mudah bagi anak-anak lain ternyata sama sekali tidak mampu aku lakukan.”

 

Hati ibunya sungguh terasa trenyuh mendengar perkataannya, dia berkata pada anaknya: “Walau demi mengobati penyakitmu, rumah besar kita yang dulu telah pun dijual, namun aku dan ayahmu tidak pernah merasa menyesal, hanya berharap engkau dapat sembuh, engkau harus berusaha keras untuk sembuh.” Anak lelaki ini menjawab dengan mata lembab: “Aku akan berusaha keras.”

 

Akan tetapi, tubuh anak lelaki ini malah semakin lama semakin lemah. Suatu hari, tiba-tiba saja dirinya sulit bernafas dan jatuh koma. Antara sadar dan tidak sadar, dia seakan turun dari ranjang dan berjalan menuju halaman depan, dia menyaksikan ada sebagian bunga akan segera layu, lalu sadar kalau kehidupan manusia itu bagaikan kuntum bunga, pada akhirnya akan berangsur lenyap, ini adalah sesuatu yang sangat alamiah. Anak lelaki ini merasa sangat lega dan menyunggingkan senyuman di bibir.

 

Tiba-tiba dari jarak tidak jauh terdengar suara nyaring benturan logam “ting ting tong tong”, ternyata ada seorang anak mungil yang sedang mempergunakan sebatang bambu untuk mendorong sebuah gelang besi agar bergulir di atas tanah, dia bermain dengan sangat gembira, anak lelaki ini sangat terpesona menyaksikannya. Tak berapa lama, anak itu pelan-pelan menjauh dengan tetap mendorong gelang besi, tiba-tiba memalingkan muka dan tersenyum pada anak lelaki ini, dia merasa sangat akrab sekali dan bermaksud mengejar, namun tiba-tiba mendengar suara panggilan ibunya dan sadar kembali. Ternyata dirinya saat itu sudah berhenti bernapas, sehingga ibunya terus memanggilnya dengan cemas.

 

Anak lelaki dengan napas terputus-putus menceritakan apa yang barusan dilihatnya, ibu berkata dengan sedih: “Anakku, engkau jangan sekali-kali meninggalkan kami.” Anak lelaki menjawab: “Bunga tentu akan layu pada waktunya, namun benihnya akan jatuh ke tanah dan menumbuhkan kembali kuntum bunga yang indah.”

 

Setelah mendengar perkataan ini, ibu sepertinya sedikit sadar, berkata kepada anaknya dengan menahan pilu: “Kita ibu dan anak sudah berusaha dengan sebaik mungkin, mungkin jalinan jodoh kita hanya sampai di sini, silahkan engkau pergi dengan batin yang tenang.” Anak lelaki lalu meninggalkan dunia ini dengan senyuman tersungging di bibirnya.

 

※ ※ ※

 

Kehidupan ini sungguh sangat rentan sekali, setiap saat mungkin saja jatuh sakit atau mengalami kecelakaan, begitu fungsi anggota tubuh rusak, hal yang biasanya sangat mudah dilakukan menjadi tidak mungkin dilakukan lagi.

 

Ketika berada dalam kondisi sehat, bisa makan dengan baik dan tidur dengan nyenyak, serta mampu untuk melakukan hal yang ingin dilakukan, ini merupakan keberkahan. Namun banyak orang yang “berada dalam keberkahan, namun tidak tahu betapa beruntungnya diri sendiri”, tidak tahu mempergunakan tubuh yang sehat untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat, setiap hari menghabiskan waktu dengan percuma atau terperosok ke dalam kerisauan mencari nama dan keuntungan, hal-hal yang sungguh sangat disayangkan.

 

Fungsi tubuh harus dipergunakan pada tempat yang tepat, barulah kehidupan ini bernilai adanya. Jika dalam kehidupan ini, kita mampu mengembangkan kemampuan intuitif untuk memberi manfaat kepada semua makhluk, kehidupan ini tentu akan dapat dilalui dengan suka cita dan penuh makna, sehingga nanti hayat kita akan dapat diakhiri dengan senyuman tersungging di bibir, pergi menuju masa kehidupan mendatang dengan tenang tanpa beban.

 

Artikel ini dikutip dari Majalah Tzu Chi edisi 385

Advertisements
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Advertisements
%d bloggers like this: